Share

Chapter 3

Dengan wajah supelnya Yura masuk ke dalam gedung perkantoran yang menjadi tempat magangnya. Terlihat Dina dan Riri menampakan cengiran khas mereka sambil melambaikan tangan. Dina Yura masuk melirik ke meja Pak Bram yang masih kosong sedikit rasa lega.  Pak Bram itu memang ganteng, tapi buat apa kalo ganteng udah punya istri. Yura meletakan pantatnya pada kursi di sebelah Riri.

“Ditungguin tau dari tadi!” Ucap Dina melemparkan alat pengaman diri berupa rompi pada Yura.

“Apaan nih? Ditungguin apa sih?” Balas Yura yang belum paham maksud ucapan Dini barusan segala main lempar rompi tepat mengenai tangan kirinya Yura.

“Enggak liat grup?” Sahut Riri membuat Yura langsung menggeser layar ponselnya.

“Ish apaan sih! Jangan gue lagi lah. Gantian gitu.” Ucap Yura sedikit kesal mengerucutkan bibirnya, “ Ri, lu aja sih!” Senggol Yura pada Riri agar mau menggantikannya. Yura tau bahwa Pak Bram juga ada disana, “Ayolah! “ bujuk Yura lagi. Jika dia meminta Dina itu tidak mungkin karena dia dibutuhkan di tempat magang menggantikan admin yang tidak masuk kerja. Harapanya hanya satu yaitu Riri. Tapi iya gitu dia sangat susah bahkan diiming-imingi makan gratis pun tetap saja susah,”YA..YA!!!” mohon Yura dengan mata pupy eyesnya.

“Orang Pak Bram mintanya elu.” Jawab Riri sambil senyum-senyum.

“Yakali gue percaya sama lu, Ri. Ngibul lu kan!” Ujar Yura menimpali, “Gak mau tau gue nggak mau ikut!” Rengek Yura sebelum suara berat menghentikan rengekanya. Yura memilih mengalihkan wajahnya ke layar sambil scroll akun media sosialnya.

“Jadi yang jadi ikut dengan saya siapa?” Tanya suara berat itu yang Yura kenal milik Pak Bram. Bram menggeser bangku duduk sedikit melirik ke Yura karena tumbenan anak itu diam saja. Bram memang belum tahu jika istrinya sudah pada tahap yang sudah sampai menemui orang tua Yura. Tapi Bram tahu jika istrinya melihat chatinganya dengan Yura.

“Dina kamu ada tugas apa?” Tanya Bram kemudian beralih ke Riri, “Kalo kamu gimana Ri?” Sebelum beralih bertanya ke Yura Dina langsung menanggapi pertanyaan dari Pak Bram.

“Saya bantuin Pak Juned, Pak. Pemberkasan!” Saut Dina.

“Kalo saya sih tadi disuruh Pak Ilham ngerevisi gambar. Lumayan banyak loh ini Pak!” Ucap Riri menampilkan bukti agar Pak Bram tidak meragukan ucapannya.

“Berarti Yura ikut saya ya?” Ucapan Bram membuat Yura langsung menegakan wajahnya menampilkan raut sedikit kesal namun sedikit ditahan, “Kalo enggak mau juga enggak papa. Yang butuh ilmu kan kalian jadi terserah kalian juga.” Secara tidak langsung itu lumayan menyindir Yura. Karena Bram tahu jika Yura hendak menolak ikut.

“Dahlah emang takdir lo Yur.” Batin Yura berusaha mengiklaskan. Yura mengambil APD melirik kedua temannya yang melemparkan senyum sambil dadah sebagai salam perpisahan, “Sialan!” batin Yura menyumpah serapahi temannya itu sebelum kaca mobil terbuka menampilkan wajah Pak Bram.

“Naik, Yur. Mau diem aja enggak jadi jalan-jalan kita. Udah telat ini.” Ujar Pak Bram membuat Yura langsung duduk di sebelah Pak Bram tanpa bicara karena fokus memasang site beltnya.

Sebelum melajukan kendaraanya Bram kembali bersuara, “Maaf ya saya ngeblok nomor kamu.”

Yura langsung menengok ke wajah Pa Bram, “Saya juga minta maaf pak, gara-gara saya bapak sama istri jadi berantem.” Ucap Yura yang memang tidak enak hati. Tapi sempat kesel juga sama istrinya Pak Bram karena bawa-bawa orang tua sampai ayahnya sampai sekarang irit bicara padanya. Bahkan yang tiap hari bercanda ayahnya cenderung diam mungkin masih kebawa keselnya Yura paham itu.

“Tapi kamu jangan hindari saya ya.” Ucapan itu membuat Yura sedikit risih, “Saya berasa dimusuhi sama kamu. Masa yang lain kamu ajak bercanda sama saya kamu acuh gitu.”

“Iya pak terserah bapak. Bapak kan atasan saya selama magang mana berani saya nyuekin bapak.” Jawab Yura sedikit menetralkan keteganganya.

Tanpa disadar mobil sudah menjauhi area kantor seiring percakapan mereka yang mulai habis dengan topik pembahasan. Dalam perjalanan terasa hening, hanya suara deru kendaraan yang saling saut menyaut bagaikan paduan yang memang di ciptakan senada. Deretan ruko dan bangunan tinggi berbaris jejer bagaikan kedatangan mereka disambut. Yura memng masih belum bertanya kemana arah mereka pergi dia hanya main ikut-ikut saja. Dina dan Riri selain tugasnya dari awal sudah bersekongkol agar Yura saja yang ikut dengan Pak Bram. Apalagi memang jika dilihat Yura dan Pak Bram memang lebih akrab dengan Yura dibanding dengan mereka berdua. Intensitas komunikasinya lebih banyakan Yura di banding Dina dan Riri. Sampai tempat tujuan memang lumayan sore selain memang macet diketahui jika keesokan harinya tanggal merah jadi sudah pasti hambatanya luar biasa.

“Loh pak! Kok kesini?” Ujar Yura yang heran karena mereka berhenti disebuah gedung bertingkat tapi dari papan namanya bertuliskan Hotel Malapaya, “Bukannya mau ke lab ya pak?” Tanya Yura lagi yang memang tahunya mereka akan mengetahui test baja. Yura memang terjun di bidang konstruksi, jadi berkaitan dengan baja memang sudah hal yang lumrah dalam dunia pembangunan.

“Kamu kok pucet gitu? Saya cuma mau istrirahat sebentar soalnya testnya diundur dua jam lagi.” Jawab Bram yang menyakinkan gadis belia di depanya sedikit terpesona melihat wajah ayu Yura yang terkena angin, “Tenang aja saya pesan dua kamar kok kamu istirahat dikamar yang satunya.” Tambah Bram yang cukup melegakan Yura.

Dengan langkah Bram yang panjang Yura cukup ketinggalan di belakang. Bram sudah sampai ke resepsionist mengambil semacam atm bukan lagi kunci. Wanita Resepsionist itu tersenyum ramah memberikan dua buah card yang memang sudah dipesan Bram.

“Ini kamar 80 dan 85 iya pak.” Ujar wanita bernada sensual itu pada Bram.

“Satunya berikan pada gadis itu.” Tunjuk Bram pada posisi Yura berada sebelum dirinya terlebih dahulu masuk menuju kamarnya. Bram ingin cepat- cepat merebahkan badanya agar otot-ototnya tidak tegang, “Jangan lupa antarkan dia takutnya kesasar.” Tambah Bram di saut dengan anggukan dari wanita resepsionist tersebut.

Dari tempat lift Raka berpapasan dengan Bram, Raka hendak keluar sedangkan Bram hendak masuk. Keduanya memang tidak saling mengenal jadi tidak ada tegur sapa diantara keduannya. Yura yang mengejar Pak Bram tidak sengaja menabrak Raka hingga hampir tersandung yang beruntungnya Raka dengan sigap menahan badan Yura.

“Yah…!!”  Terdengan suara helaan nafas dari Yura karena melihat pintu lift tertutup sempurna. Sedikit kesal karena bisa-bisanya Pak Bram meninggalkannya sendiri ditempat asing begini. Raka langsung membantu menegakan badan Yura kemudian Yura langsung kaget karena bertemu lagi untuk kesekian kalinya, “Lah! Yang hambir nabrak saya ya?” Telisik Yura sambil mencoba memutar ulang memori kepalannya, “Iya nggak salah lagi. Duh! Maaf ya.”  Yura menempelkan kedua tanganya tanda permohonan maaf karena lagi-lagi membuat masalah mengingat bayar ganti rugi saja belum di selesaikan.

Dari samping kiri datanglah wanita resepsionist, “Ya ampun mbak! Ini kuncinya tadi saya di pesenin ini sama bapak tadi. Sini saya antar ke kamar.” Ujarnya dengan sopan mengajak Yura karena tips tambahan yang diberikan oleh Bram tadi jika tidak mana mau dia mengantarkan Yura dengan sikap lemah lembut.

Raka sebenarnya ingin sekali bertanya namun tidak enak hati karena pertama mereka belum saling kenal jika bertanya masalah pribadi sungguh tidak sopan. Yang kedua ingat kata ayahnya jangan mencampuri urusan orang lain yang bukan haknya. Prinsip itu masih dipegang teguh oleh Raka sampai sekarang.

“Saya permisi ya, mas.” Ucap Yura sopan membuyarkan lamunan Raka. Raka memilih langsung pergi tanpa memberikan ekspresi balasan dari ucapan Yura, “Marah kali ya dingin banget udah kaya kulkas! Gue kan enggak sengaja. Dahlah besok gue bayar setengah deh biar enggak judes tuh orang.” Batin Yura terus berbicara dalam hati sembari berjalan mengikuti langkah wanita Resepsionist tadi. Setelah sampai di depan pintu kamar bernomorkan 85 Yura menepuk bahu Tisa nama sang resepsionist terlihat dari name tagnya, “Mbak kalo Pak Bram di nomor mana?” Tanya Yura.

“Maksudnya?” Tisa palah balik tanya pada Yura.

“Itu bapak yang nyuruh mbak nganterin saya ke kamar ini.” Jelas Yura di balas oh panjang dari Tisa.

“Biasa!”

“Hah! Maksudnya?” Yura bertanya karena memang biasa apanya maksud Tisa itu.

“Maksud saya beliau di nomor 81.”

Yura langsung berterimakasih sebelum Tisa meninggalkanya seorang diri di kamar hotel. Sempat terdengah helaan nafas dari Tisa yang sampai ditelinganya sebelum keluar dari pintu kamar yang di masuki oleh Yura, “Tuh orang kenapa dah!” Ucap Yura lirih. Yura menjelajahi ke sudut ruangan kamar hotelnya. Sudah lamakan dirinya belum merasakan liburan apalagi di hotel yang memang terkenal di kota bogor. Setelah merebahkan selama hampir 20 menitan Yura beranjak dari kasur matanya terhipnotis pada jendela kaca yang terlihat pemandangan yang cukup menyejukan mata. Wanita memang tidak akan bisa satu hari tanpa berswafoto ketika ditempat baru yang bagus. Tentu saja Yura tidak akan melewatkan kesempatan emas itu kapan lagi kan bisa dapat gratisan yang begini.

“Lumayan buat nambah koleksi. Pamerin ke grup ah!” Pekik Yura girang.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status