Share

Bab 94

Penulis: Clarissa
Namun, apakah Tiffany akan merayakan ulang tahunnya sesimpel ini hanya karena Sean tidak bisa melihat? Tiffany terus menatap dirinya dari pantulan cermin cukup lama. Pada akhirnya, dia mengenakan sandal dan turun ke lantai bawah. "Pak Sofyan, Kak Rika, bantu aku!"

....

Pukul delapan malam.

Sesuai permintaan Tiffany, semua pelayan di vila sudah dibubarkan. Hanya tersisa beberapa pengawal yang berjaga di sekitar. Tiffany yang mengenakan gaun putih berbahan renda, menarik napas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu ruang kerja Sean.

Ruang kerja itu gelap gulita. Sinar bulan menembus jendela, menimbulkan nuansa yang terkesan dingin. Di ruangan itu, Sean duduk di atas kursi rodanya dengan matanya tertutup oleh kain hitam. Tiffany tidak tahu apakah dia sedang tertidur atau hanya beristirahat, jadi dia menyalakan lampu dengan hati-hati sebelum melangkah lebih dekat.

"Sayang?" panggilnya lembut. Sean mengernyit sedikit.

Sepanjang sore, Sean telah mendengarkan laporan dari lima konglomerat di Elup
Bab Terkunci
Lanjutkan Membaca di GoodNovel
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Fenty Izzi
semoga acara yang d buat Tiffany lancar
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 95

    Ruang makan yang hanya diterangi cahaya lilin yang temaram. Tiffany refleks meremas ujung gaunnya. Dia berkata dengan suaranya yang lembut dan ragu, tetapi penuh kegigihan yang menjadi ciri khasnya, "Aku tahu kamu nggak pernah merayakan ulang tahun sebelumnya.""Tapi ...."Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menatap Sean dengan serius dan tersenyum manis, "Sayang, sekarang kamu punya aku."Mata Tiffany berkilauan dalam pantulan cahaya lilin saat menatap Sean dengan penuh ketulusan. "Mulai sekarang, aku akan rayakan ulang tahunmu setiap tahun. Merayakan usiamu yang bertambah satu tahun lagi."Harus diakui, ketika melihat senyuman yang begitu tulus di wajah Tiffany, rasa dingin yang menyelimuti hati Sean seakan mulai sirna. Kata-kata yang diucapkannya membuat hati Sean luluh.Di balik kain hitam yang menutupi matanya, Sean memandang Tiffany dengan intens. "Tapi aku nggak ingin rayakan ulang tahun.""Nggak masalah kalau kamu nggak mau, tapi aku ingin merayakannya untukmu," balas Tiffany d

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 96

    Sean hendak meniup lilin. Tiffany tidak lupa memperingatkan, "Buat permintaan dulu."Ketika neneknya berulang tahun dulu, Tiffany juga selalu memperingatkan neneknya seperti ini.Sean menyunggingkan senyuman. Lilin akhirnya ditiup. Tiffany mencabut semua lilin, lalu memotong kue untuk Sean sambil bertanya, "Kamu sudah buat permintaan tadi?"Sean menatapnya tanpa mengalihkan pandangan sedetik pun dan membalas, "Bisa dibilang begitu."Lantaran ada sutra hitam yang menutupi, Tiffany tentu tidak bisa melihatnya. Tiffany membelakangi Sean sambil memotong kue."Permintaanku adalah semoga kamu bisa lebih pintar," ucap Sean tiba-tiba.Tiffany pun termangu sesaat. Dia mencebik, lalu mengambil garpu dan hendak menyuapi Sean kue. Dia bergumam, "Permintaanmu nggak bakal terkabul kalau dibocorkan."Sean memakan kue itu, lalu tersenyum tipis sambil menimpali, "Kalau begitu, kamu jadi gadis bodoh saja."Sean menyukai Tiffany yang agak bodoh. Tiffany menatapnya dengan kesal dan membela diri, "Sudah ku

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 97

    Ketika melihat Tiffany sedih, Sean langsung menggendongnya dan menurunkannya di sofa. Sean langsung menyalakan lampu, lalu mengambil kotak P3K.Tiffany menatapnya dengan bingung. Bukannya Sean buta? Kenapa dia bisa menyalakan lampu dan tidak sempoyongan saat berjalan, bahkan bisa menemukan kotak P3K?Ketika Tiffany masih larut dalam pikirannya, Sean telah kembali ke sisinya. Sean berlutut dengan satu kaki, lalu meraih tangan Tiffany yang berdarah. Sambil menyekanya, dia bertanya, "Kok bisa terluka begini?"Bukannya Tiffany sering masak? Dia tidak pernah membuat kesalahan seperti ini. Tiffany menggigit bibir. Dia menyahut dengan malu, "Tadi aku memejamkan mataku ...."Sean yang mendisinfeksi luka Tiffany sontak termangu. Dia bertanya lagi, "Untuk apa?"Wajah Tiffany memerah. Dia menimpali, "A ... aku lihat kamu potong steik dengan mudah tadi. Aku jadi ingin mencoba memotong dengan mata terpejam."Usai berbicara, Tiffany merasa makin malu akan kebodohannya. Pantas saja, Sean mengatakanny

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 98

    Makin dipikirkan, Tiffany merasa makin senang. Jantungnya berdebar-debar. Sean membiarkan Tiffany memeluknya. Hatinya yang sudah lama tertutup rapat, berangsur menghangat.Sesaat kemudian, Sean melepaskan Tiffany dan bertanya, "Steiknya masih mau dimakan?"Malam ini, Tiffany belum makan apa-apa selain kue tadi. Dia menyahut dengan wajah tersipu, "Mau."Sebenarnya Tiffany lapar. Sean pun bangkit, lalu berjalan ke meja dengan perlahan dan mengambil steik yang sudah dipotongnya.Tiffany hendak menerimanya, tetapi Sean tiba-tiba menggerakkan garpunya dan hendak menyuapi. "Buka mulutmu."Tiffany terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. Sean ingin menyuapinya? Dia akhirnya berujar, "Biar aku saja."Sean berkata lagi, "Buka mulutmu."Tiffany akhirnya membuka mulut. Sean terus menyuapinya. Wajah Tiffany memerah.Setelah steik habis, Tiffany memberanikan diri melepas sutra hitam yang menutupi mata Sean. Sean sedang lengah, jadi tidak sempat menghindar.Mungkin karena suasana malam ini, Tiffany

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 99

    Tiffany tergelak hingga memukul meja. "Julie, jangan bercanda. Kalau benar begitu, berarti aku sudah kaya. Tapi, hal seperti itu nggak mungkin terjadi."Industri Keluarga Ambarita sangat besar dan sering muncul di TV. Mana mungkin perusahaan itu diserahkan begitu saja hanya karena Tiffany dan Leslie bertengkar?Julie juga tahu hal seperti itu tidak mungkin terjadi. Dia mencebik sambil berkata, "Manusia harus punya mimpi. Mungkin saja bisa jadi kenyataan."Tiffany terkekeh-kekeh, lalu mengeluarkan buku catatannya yang tebal untuk belajar. "Sekarang aku nggak punya harapan apa pun. Aku cuma ingin dapat nilai tinggi hari ini.""Buset!" Julie buru-buru meletakkan kopinya. Dia lupa hari ini ada ujian tengah semester. "Tiff, pinjamin aku buku catatanmu dulu. Aku mau buat contekan."Tiffany mengerlingkan matanya dan menahan tangan Julie. "Nggak boleh!" Dia mengeluarkan buku teks dan meneruskan, "Kuberi beberapa soal saja. Seharusnya akan muncul di soal ujian nanti."....Pukul 2 siang, ujian

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 100

    Itu memang informasi pribadi Tiffany. Namun, dia bukan presdir perusahaan!Di belakang, dosen yang mengawasi ujian masih mengamati mereka dengan waspada.Tiffany memberanikan diri melirik Liam dan sekelompok orang berpakaian hitam di belakang, lalu bertanya, "Kamu bilang aku atasan kalian, 'kan?""Ya.""Itu berarti, kalian akan mendengar perintahku?""Tentu saja."Tiffany mengelus jidatnya dan berkata, "Kalau begitu, kita cepat keluar dari sini."Sekelompok orang berpakaian hitam itu berbaris dengan rapi, lalu mengikuti Liam dan Tiffany dengan tertib.Tiffany membawa rombongan itu berjalan di halaman universitas. Dia benar-benar terlihat seperti atasan yang hendak melakukan inspeksi.Pada akhirnya, Tiffany membawa mereka ke taman belakang. Setelah memastikan tidak ada siapa-siapa di sekitar, Tiffany mengembuskan napas lega dan mencari batu untuk duduk.Sekelompok pria berpakaian hitam bergegas menghampiri untuk membantu Tiffany menghalangi cahaya matahari dengan tubuh tegap mereka. Tif

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 101

    Sean tertawa sambil bertanya, "Memangnya nggak bagus jadi presdir? Banyak orang yang memimpikannya."Tiffany melirik sekilas ke arah pengawal yang berbaris di kejauhan dan Liam yang tersenyum padanya. "Nggak!" balas Tiffany.Sean mulai iseng. Sambil menjawab telepon dan memeriksa dokumen yang dikirimkan Taufik padanya, dia bertanya, "Apanya yang nggak bagus? Kamu bisa melakukan apa pun sesuka hatimu dan beli apa pun yang kamu suka."Tiffany hampir saja menangis. "Tapi semua itu bukan milikku!"Dia hanya seorang gadis dari pedesaan. Tiffany beranggapan bahwa dirinya tidak sanggup mengemban status setinggi itu. Dengan suara pelan, gadis itu menambahkan, "Sayang, suasana hatiku sekarang seperti sedang ditimpa uang 10 miliar. Aku nggak berani menyentuhnya, memakainya, dan juga agak ketakutan ...."Sean tertawa kecil. "Grup Ambarita ini jauh lebih dari sekadar 10 miliar. Saham yang diberikan Taufik padamu bernilai sekitar satu triliun."Brak!Ponsel Tiffany sampai terjatuh saking terkejutny

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 102

    Tiffany memasang wajah murung. "Aku nggak mau terlalu menarik perhatian." Dia menarik napas dan menceritakan pada Julie tentang Taufik yang memindahkan sahamnya kepadanya."Astaga!" Julie tertawa terpingkal-pingkal, "Ternyata tebakanku benar, ya?""Coba kamu jelaskan, Tiff, seberapa besar sih pengaruh suami tampanmu itu sebenarnya? Waktu itu Leslie cuma memarahimu, lalu ayahnya langsung datang menjemputmu dengan limusin panjang.""Kemarin mereka bertengkar denganmu, Taufik sampai ketakutan lalu menyerahkan perusahaan padamu?"Tiffany berjalan di depan bersama Julie, sementara Liam mengawal mereka dengan sekelompok bodyguard di belakang. Tatapan teman-teman kampus yang melihat mereka membuat Tiffany merasa tidak nyaman.Dia merapatkan bibirnya dan menggenggam tangan Julie. "Dalam sebulan ini, aku nggak bisa mengembalikan uang dan perusahaan ini ke Taufik .... Jadi, selama sebulan ke depan, aku masih harus menjalankan peran sebagai Presdir Grup Maheswari di atas kertas."Julie tertawa te

Bab terbaru

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 593

    Arlene berdiri di atas karpet merah muda di depan pintu apartemen Sean dan mengeluarkan kartu akses dari saku piamanya dengan hati-hati. Dengan gerakan kecil, dia menggesek kartu di pintu."Beep!"Pintu terbuka.Di dalam, suasana masih sunyi, tidak ada siapa pun. Namun, di atas meja kopi di ruang tamu, masih ada sepiring besar stroberi segar, sama seperti kemarin.Mata Arlene langsung berbinar!Keputusannya tidak meminta Mama membeli stroberi tadi sangat tepat! Stroberi di pasar mana mungkin sebagus yang ada di rumah Paman tetangga ini! Rasanya juga pasti lebih enak!Karena nafsu makannya, gadis kecil itu berlari dengan gembira ke arah stroberi.Satu buah, dua buah, tiga buah ....Rasanya yang asam manis langsung membuat senyumnya semakin lebar. Sampai Ketika dia makan sampai hampir kenyang, Arlene mengusap perutnya dan bersendawa kecil.Namun, Arlene masih ingat peringatan ibunya. Jika tidak makan malam dengan baik, dia harus pergi ke dokter! Jadi, dia harus menyisakan ruang di perut

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 592

    'Sepertinya aku harus mencari waktu untuk berkenalan dengan tetangga baru.'Dengan pemikiran itu, Tiffany membuka pintu dan membawa kedua anaknya masuk ke rumah.Begitu masuk, Arlo langsung membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah puzzle, lalu menuangkannya di atas karpet ruang tamu. "Mama, puzzle ini adalah hadiah dari guru TK hari ini!"Tiffany melirik puzzle di lantai dan langsung mengenalinya.Puzzle ini ....Dulu, Arlo memang sangat menyukai mainan edukatif seperti ini. Suatu kali, ketika dia dan Xavier pergi berbelanja, pria itu ingin membelikan puzzle serupa untuk Arlo, tetapi Tiffany menolaknya.Alasannya?Terlalu mahal.Satu set puzzle ini hampir seharga sepuluh juta!Xavier bahkan sempat menggoda Tiffany, menyebutnya terlalu pelit pada anaknya sendiri. Namun, ini bukan soal pelit atau tidak. Tiffany selalu memastikan bahwa kedua anaknya memiliki kehidupan yang layak, tanpa merasa rendah diri dibandingkan anak-anak lain.Dari makanan hingga pakaian, dia selalu berusaha member

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 591

    Tiffany hanya mengangkat bahu dan melirik Arlene melalui kaca spion. Wajah mungilnya masih memerah karena menangis. "Kalau kamu tega, kamu saja yang tangani dia."Arlo terdiam sejenak, lalu menoleh ke adiknya.Gadis kecil itu masih mengusap air mata dengan tangan mungilnya dan menatap Arlo dengan mata yang penuh kesedihan. "Kakak, apa Kakak sudah nggak sayang lagi sama Arlene?"Suara mungilnya terdengar manja dan sedikit terisak, berpadu dengan ekspresi polos khasnya .... Tubuh Arlo langsung menegang.Beberapa detik kemudian, dia membuang muka dan berpura-pura menatap keluar jendela. Dengan nada jengkel, dia bergumam, "Yang jadi ibu itu Mama, kenapa harus aku yang jadi penjahat?"Tiffany terkekeh pelan.Dua anak ini ....Meskipun Arlo hanya lebih tua lima menit dari adiknya, dia jauh lebih dewasa. Di luar sikapnya yang selalu tampak kesal terhadap adiknya, Tiffany tahu betul, tidak ada yang lebih menyayangi Arlene selain kakaknya.Tiffany melirik kaca spion lagi, melihat Arlene yang ma

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 590

    Stroberi segar lebih enak daripada es krim stroberi!Setelah Arlene menghabiskan es krimnya perlahan, makanan di meja makan sudah hampir dingin.Melihat adiknya masih santai dan tidak terburu-buru, Arlo berjalan mendekat, lalu mengusap sisa es krim di sudut bibirnya. "Cuci tangan dulu, lalu makan!"Arlene mengerutkan alis kecilnya. "Aku sudah kenyang."Tadi di rumah paman tetangga, dia sudah makan banyak stroberi. Ditambah satu es krim, sekarang perutnya terasa penuh dan tidak bisa makan apa pun lagi.Tiffany mengernyit. "Cuma makan segini saja?"Es krim yang dibeli Arlo bukan ukuran besar, hanya sekitar 50 gram. Meskipun es krim mengandung banyak kalori, tidak mungkin hanya dengan itu Arlene sudah merasa kenyang."Iya." Arlene mengusap perutnya dengan malu-malu. "Sudah nggak muat lagi!""Mama, Kakak, kalian makan saja. Aku mau nonton kartun dulu!"Tiffany kembali duduk di meja makan, menatap Arlo dengan curiga, lalu merendahkan suaranya. "Kamu kasih adikmu makan apa tadi?"Arlo menger

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 589

    "Paman, kenapa Paman nggak suka makan stroberi?"Di sofa, Arlene yang mengenakan piama pink bergambar kelinci menggigit sebuah stroberi segar dengan lahap. Matanya yang besar dan jernih menatap Sean dengan penasaran. "Stroberi itu enak sekali! Kenapa Paman nggak suka?""Yah, cuma nggak suka saja."Sean duduk di sebelahnya, tersenyum kecil saat melihatnya makan dengan penuh semangat. "Kamu suka makan stroberi?""Suka!"Arlene mengangguk dengan semangat. "Tapi Kakak bilang stroberi itu mahal. Nggak bisa selalu minta Mama membelinya. Mama capek!"Tatapan Sean sedikit meredup. "Mama yang bilang sama kamu begitu atau Kakak?""Kakak!" Arlene tersenyum cerah. "Kakak bilang Mama capek sekali. Tapi Mama bilang, Mama nggak capek."Gadis kecil itu mengerutkan kening dengan wajah bingung. "Aku jadi pusing. Aku nggak tahu Mama benar-benar capek atau nggak."Sean mengulurkan tangan dan mengusap lembut rambut hitamnya. "Mama-mu pasti capek.""Kakak juga bilang begitu!"Sean mengangguk kecil. Merawat

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 588

    "Sepuluh ribu nggak cukup lho, Mama."Arlo berkedip dengan wajah polos, lalu menatap Tiffany. "Mama, turun beli garam itu butuh tenaga. Aku perlu satu es krim untuk mengembalikan kaloriku. Dan aku juga nggak bisa makan es krim sendirian di depan Arlene. Jadi, Mama, kamu harus kasih aku uang untuk beli dua es krim!"Tiffany menatap putranya yang baru berusia lima tahun tapi sudah sangat cerdas dalam berhitung. "Dasar bocah cerdik."Sambil menghela napas, dia mengambil uang 20 ribu dari sakunya dan menyerahkannya pada Arlo. "Hari ini kamu boleh beli dua es krim yang enak.""Hore!" Arlene yang memakai piama pink bergambar kelinci langsung bertepuk tangan dengan gembira. "Mama memang yang terbaik!"Tiffany hanya bisa tersenyum pasrah lalu menatap Arlo. "Pergi dan cepat kembali.""Siap!"Setelah mendengar jawaban putranya, Tiffany berbalik menuju dapur.Sementara itu, Arlo mengganti sepatunya dan bersiap turun. Sebelum pergi, dia masih menyempatkan diri untuk menoleh ke adiknya. "Tunggu aku

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 587

    Tiffany mengendarai mobilnya hingga sampai di bawah apartemen tempat dia dan kedua anaknya tinggal. Saat mobil berhenti, dia membuka pintu dan berkata, "Arlo, Arlene, turun!"Gadis kecil berbaju putih ala putri itu turun perlahan dari mobil dengan langkah hati-hati. Di belakangnya, Arlo dengan tas sekolahnya di punggungnya, turun sambil menggenggam tangan adiknya dan membawa tasnya."Mau makan malam apa?" tanya Tiffany dengan santai sambil mengunci mobil."Di rumah masih ada tomat, kita buat telur dadar tomat saja."Dengan gaya sok dewasa, Arlo menjawab sambil menggandeng tangan Arlene. "Tadi siang di TK, Arlene paling banyak makan telur dadar tomat. Aku yakin dia ngidam."Arlene membelalakkan matanya. "Aku nggak!"Huh! Dia hanya makan banyak karena masakan lainnya terlalu asin, sedangkan telur dadar tomat itu manis. Itu saja! Bukan karena dia mengidam!Arlo melirik adiknya sekilas, lalu merendahkan suara dan berkata, "Suasana hati Mama lagi nggak bagus hari ini, lebih baik kita makan

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 586

    Tiffany melambaikan tangan dengan canggung dan menolak dengan halus sebelum menekan kunci mobil untuk membuka pintunya. "Nggak dulu, aku masih harus menjemput anak-anak dari TK.""Oh, begitu ... sayang sekali."Para dokter dan perawat itu pun bubar dengan sedikit kecewa. Sementara itu, Tiffany menghela napas panjang sebelum akhirnya masuk ke mobil.Sudahlah.Jika Sean sudah tidak berniat mengganggunya lagi, seharusnya dia merasa senang, bukan malah merasa kehilangan, 'kan?Lelaki itu mengaku mencintainya, memasang video pencarian di layar raksasa di berbagai kota besar di dunia, mencari dirinya selama lima tahun penuh ....Omong kosong! Semua itu bohong!Tiffany hanya menegurnya beberapa kali tadi siang karena emosi sesaat, tapi Sean malah langsung mundur? Sean tidak pernah muncul, mengusik, dan mencari-cari dirinya lagi selama seharian penuh!Kalau perasaannya memang goyah semudah itu, untuk apa berpura-pura mencari selama lima tahun?Dasar berengsek!Sambil menggerutu dalam hati, Tif

  • Dimanja Suami Pembawa Sial   Bab 585

    Tiffany terpaku menatap video di ponsel Brandon, lalu menyeka ujung matanya yang basah. Wanita itu menarik napas dalam-dalam. "Bisa nggak kamu kirimkan video ini ke aku?""Tentu saja!" Brandon mengangguk dengan cepat, lalu langsung mengirimkan video itu ke e-mail Tiffany."Ngomong-ngomong, Dok Tiff, setelah melihat semua yang sudah dilakukan Kak Sean untukmu, kamu nggak merasa terharu?"Tiffany menerima file video itu dan mengangguk pelan. "Tentu saja aku terharu.""Kalau begitu, apakah kalian akan berdamai?" Brandon masih menatap Tiffany dengan ekspresi penuh harapan. "Kalau kamu merasa terharu, bukankah itu berarti hatimu sudah nggak terlalu menolaknya lagi?"Brandon menatap Tiffany dengan serius. "Kak Sean benar-benar tulus sama kamu, Dok Tiff.""Waktu makan siang tadi, dia menunjukkan video ini ke aku dan menceritakan banyak hal tentang perjalanan panjangnya mencarimu selama bertahun-tahun. Waktu itu, aku tiba-tiba menyadari betapa jauhnya perbedaan antara aku dan dia.""Aku bilang

Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status