Share

7. Tuntutan Misyka

"Pokoknya Pak Zein harus bertanggung jawab. Masa depanku sudah hancur sekarang."

Dua hari pasca insiden yang menghebohkan jagad raya, di mana mobil yang dikendarai Mas Zein menabrak pohon, dengan kondisi Mas Zein dan seorang wanita ditemukan dalam keadaan setengah telanjang, Misyka datang bersama dua orang yang mengaku pengacaranya meraung meminta pertanggung jawaban pada suamiku.

Ya, perempuan yang ditemukan tak sadarkan diri bersama suamiku adalah Misyka.

Terkejut? Tentu saja! Tapi seperti permintaan Mas Zein, aku harus lebih percaya pada suamiku itu.

"Bagaimana, Pak Zein? Demi menjaga nama baik, saran saya sebaiknya Anda bertanggung jawab. Laki-laki baru akan disebut gentle apabila dia mau mengakui dan bertanggung jawab atas apa yang sudah ia perbuat. Apalagi klien saya banyak dirugikan dari insiden memalukan ini." Salah satu dari pengacara Misyka pun ikut mengeluarkan suara, memojokkon Mas Zein.

Mata lelaki yang membersamaiku beberapa tahun itu tertuju padaku. Mata itu seolah mengisyaratkan agar aku tidak percaya pada apapun perkataan mereka. Namun ketidak berdayaannya saat ini membuat Mas Zein tidak bisa berbuat apa-apa.

"Maaf, Pak ...." ucapku menggantung.

"Aldo. Nama saya Aldo. Anda siapa?" tanya laki-laki botak yang tadi mengaku pengacara Misyka.

Aku yang sejak tadi duduk di sofa menyimak, kini beranjak mendekat pada suamiku yang sudah tertodong.

"Begini Bapak Aldo yang terhormat. Saya Salsa, istri sah dari Mas Zein. Saya tidak tahu kronologi yang sebenarnya. Pun tidak pernah mendengar kalau suami saya ini punya hubungan khusus dengan klien Anda. setahu saya Misya hanya skretaris suami saya di kantor," ucapku sambil berjalan santai ke arah bad Mas Zein.

Aku berhenti di sisi kiri Mas Zein, menggenggam jemarinya kuat, sebagai tanda bahwa aku percaya sepenuhnya pada suamiku.

Misyka yang duduk di kursi roda di sisi kanan Mas Zein dengan dua orang di belakangnya menatap sinis padaku.

"Oh, rupanya Anda istri dari Bapak Zein Adiguna? Pantas saja ...." Lelaki yang berdiri di sebelah Aldo itu berbicara sambil memindaiku dari ujung kaki hingga ujung kepala. Mereka tersenyum mengejek padaku.

Lagi-lagi, mungkin karena panampilanku yang sederhana.

Aku pikir tak perlu berpenampilan wah kalau hanya untuk menunggui orang sakit. Memakai daster ternyaman adalah pilihanku malam ini. Tetapi hal itu agaknya menjadi poin bagi mereka menjatuhkanku.

Tak masalah, mereka boleh meremehkanku. Menilai apapun tentangku. Mereka belum tahu saja siapa itu Salsabila Khairunnisa sebenarnya.

"Pantas kenapa Bapak pengacara yang terhormat?" tanyaku.

"Semua orang juga akan berkata wajar jika Pak Zein ini ada affair dengan klien saya, mengingat Anda sebagai istrinya tidak pandai menyenangkan suami." Perkataan menohok dari Aldo itu berhasil membuatku sedikit panas.

Mas Zein mengeratkan genggaman tangannya padaku.

Berkali-kali aku beristighfar dalam hati agar aku kuat dan tidak gegabah menghadapi mereka.

Aku terkekeh seraya memandang mereka. "Apa sebagai pengacara Anda hanya menilai seseorang dari penampilannya saja? Jika iya, maka sangat di sayangkan gelar yang menempel pada diri Anda. Seharusnya Anda menjadi desainer saja kalau begitu, bukan jadi pengacara."

"Anda meremehkan saya!" Aldo memekik, matanya melotot tajam padaku.

"Wow ...! Santai dong Pak. Jangan kasar sama wanita. Ada suaminya di sini. Meskipun saya sedang sakit, kalau hanya untuk mengajak Anda menginap di rumah sakit ini saya masih sanggup!" hardik Mas Zein membelaku.

"Anda jangan mengancam teman saya Pak Zein. Selesaikan dulu masalah Anda dengan Bu Misyka, jangan cari perkara lain," timpal laki-laki yang bertubuh gempal membela si Aldo itu.

"Semua sudah diurus oleh pengacara saya, jadi silakan kalian semua pergi dari sini sebelum saya panggilkan scurity," usirku.

Hari semakin larut, Mas Zein harus segera istirahat. Aku pun sudah mulai mengantuk.

"Lalu nasibku bagaimana sekarang ..." Misyka kembali mengeluarkan air mata buayanya.

Tangisan yang seperti dibuat-buat hanya untuk mencari simpati dua pengacaranya dan Mas Zein. Dasar tukang akting!

"Tenang Bu Misyka, kita akan datang lagi besok pagi. Pokoknya saya dan tim akan berjuang mendapatkan keadilan untuk Anda."

"Benar, Bu Misyka, Anda jangan sedih, ya."

"Ya sudah sih nangisnya. Udah ditenangin dua cowok kok," selorohku terkekeh kecil.

"Saya sangat menyayangkan sikap Anda yang terkesan membela Pak Zein, Bu Salsa. Meskipun dia itu suami Anda, seharusnya sebagai sesama wanita Anda mengerti keadaan Bu Misyka yang menjadi korban kebejadan Pak Zein. Lagipula, apa Anda tidak sakit hati sudah dikhianati oleh suami Anda?" ucap Aldo.

"Memangnya apa yang sudah suami saya lakukan pada Misyka? Mengkhianati bagaiman yang Anda maksud?"

"Semua kejadian di TKP sudah cukup jelas bahwa suami Anda mencoba melecehkan Bu Misyka. Banyak saksi mata yang melihat Pak Zein dan Bu Misyka dalam keadaan yang tidak senonoh."

"Tapi apakah Anda juga bisa memastikan pada saat belum terjadi kecelakaan itu, mereka tengah bercumbu ... Apakah Anda punya rekaman atau bukti kuat yang mengarah ke sana?" ujarku tenang.

"Memang tidak ada rekaman apapun sebelum terjadi kecelakaan itu. Tetapi Anda bisa lihat sendiri bukan, Pak Zein pun tidak bisa menyangkal semua tuduhan yang Bu Misyka arahkan padanya. Itu artinya dia pun mengakuinya."

"Belum tentu, Pak pengacara. Suami saya tahu pada siapa dan di mana harus membuka suaranya. Tidak perlu mengeluarkan banyak suara, jika memang bersalah, maka sekuat apapun suami saya menyangkal pasti akan terlihat juga kebenarannya."

"Anda terlalu bucin, Bu Salsa. Apa karena Pak Zein kaya raya sehingga Anda menutup mata atas kelakuan tidak terpujinya."

Aku kembali terkekeh mendengar ucapan pengacara Misyka yang terdengar lucu bagiku.

Melepaskan genggaman tangan Mas Zein, aku berjalan ke arah Misyka.

"Jika terbukti suami saya melakukan pelecehan padamu, maka saya sendiri yang akan menyiapkan pesta pernikahan untuk kalian!" ujarku tenang tapi penuh penekanan.

Terlihat senyum mengembang dari ketiganya.

"Tetapi jika sebaliknya, maka saya akan pastikan karir kalian berdua akan selesai sampai di sini, dan Misyka akan saya masukkan daftar blacklist agar tidak ada satu perusahaan pun yang akan menerimanya!" imbuhku.

Seketika senyum mereka meredup.

Tapi beberapa detik berikutnya si Aldo botak itu menyeringai.

"Saya terima tantangan Anda, Bu Salsa," ucapnya tegas seraya mengulurkan tangan padaku.

Kusambut uluran tangannya tanpa ragu.

Setelah itu mereka pergi meninggalkan ruangan ini.

"Terima kasih, Sayang. Kamu sudah percaya pada Mas," ucap Mas Zein setelah ketiga orang itu tak terlihat.

Aku menoleh, menatap tajam padanya.

"Jangan senang dulu, Mas. Aku membelamu bukan berarti tidak mencurigai mu. Jika sampai Mas terbukti melakukan itu, bukan hanya akan menikah dengan Misyka tetapi Mas Zein harus siap kehilangan aku dan anak-anak."

"Tidak, Dek. Mas akan buktikan kalau Mas sama sekali tidak melakukan itu."

"Ya sudah, istirahatlah. Aku juga ngantuk."

Kemudian aku berjalan menuju sofa bersiap untuk tidur.

"Dek ...." Mas Zein memanggil setelah aku memejamkan mata.

"Hemmm."

"Tidur di kasur saja, sini. Mas gak tega lihat kamu tidur di sofa begitu. Kasihan calon anakku di perutmu."

Mataku terbuka mendengar ajakan Mas Zein. Kalau dipikir-pikir emang gak enak sih tidur di sofa begini. Aku iyakan aja deh tidur di kasur. Kayaknya muat kalau buat tidur berdua.

"Jangan macam-macam, ya. Awas tangannya!" sentakku pada Mas Zein saat aku sudah berada di kasur.

"Enggak akan macam-macam kok, Dek. Paling cuma satu macam aja. Boleh kan?"

"Apaan sih, Mas. Aku masih marah loh sama Mas."

"Cuma peluk doang, kok. Gak boleh juga?"

"Enggak! Enggak! Enggak!"

Lalu setelah itu Aku tak ingat apapun lagi karena kesadaranku sudah menyeberang ke alam mimpi.

****

Tengah malam aku terbangun. Perlahan turun dari ranjang berniat mencari ponselku.

Alangkah terkejutnya ketika aku membaca beberapa pesan dari orang kepercayaanku.

Pesan berisi informasi tentang Misyka dan para anteknya yang bisa dijadikan sebagai senjata ampuh menghancurkan mereka.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status