Share

Bab 2

 

 

 

"Rei Saputra, betul itu nama kamu?" Alya bertanya, berharap pria itu mengakui. Bahkan ingat akan kejadian dua tahun yang lalu, antara dia dan dirinya.

 

Pria jangkung bertubuh tegap, menatap Alya dengan lekat. Lantas mengernyit, seolah tidak paham dengan apa yang barusan didengar.

 

"Betul, memangnya kenapa?" 

 

Ditanya balik membuat hati Alya tercabik, hancur berkeping-keping. Bagaimana mungkin, pria itu masih bertanya kenapa? Apa dia lupa, sudah menorehkan luka yang teramat dalam pada Alya?

 

"Ap-apa kamu lupa, dengan kejadian dua tahun yang lalu Rei?" Alya masih menatap Rei, bohong jika dirinya sudah tak cinta. Sebab, hingga kini belum ada satu pun pria yang mampu mengganti nama Rei di hati. Meski telah disakiti bahkan dicampakan!

 

Pria itu masih terdiam, semua terjadi begitu saja. Tak pernah menyangka bahwa wanita masa lalunya malah bekerja di Perusahaan milik sang Ayah, ia bungkam. Tak punya ide brilian untuk berkelit dari Alya, yang masih menatap dengan penuh harap.

 

"Kenapa kamu diam Rei? Ke mana waktu itu? Kamu bahkan udah berhasil membuatku dan keluarga malu, tanpa kabar kamu pergi seenaknya saja!" 

 

Rei berhitung dengan situasinya kini, apalagi wanita di depannya mulai menitikan air mata. Laju tangis yang ia sendiri tak mampu untuk menghentikannya, sebab dialah tersangka utama.

 

Rei mendengus kasar, sebal terus diinterogasi seperti itu, "Tolong keluar dari ruangan saya! Sepertinya Anda, salah orang Miss." 

 

Alya tak mengindahkan jawaban dari Rei, lantas bergegas duduk menghampiri pria yang tengah tegang di kursi kekuasaannya.

 

"Dokumen ini sudah saya tanda tangan, Miss. Jadi, urusan Anda sudah selesai. Dan pintu keluar ada di sana!" 

 

Rei menelan saliva, tak sanggup lagi bersitatap dengan Alya. Wanita cantik yang telah ia tinggal, pasca pernikahan akan dilangsungkan.

 

"Kamu amnesia Rei? Atau pura-pura lupa dengan aku? Dengan cinta kita? Kalau tau ini Perusahaan milik kamu, mana sudi aku menginjakkan kaki di sini," tukas Alya, sambil melenggang pergi. Dengan perasaan sakit yang bertubi-tubi.

 

Rei memijat keningnya, hari pertama kerja malah mempertemukannya dengan masa lalu. Ia bahkan sudah tak mau lagi membahas perihal kepergiannya dua tahun yang lalu, sebab itu bukanlah keinginan sendiri.

 

Alya menghapus air mata dengan kasar, tak boleh ada yang tau bahwa ia habis menangis tatkala keluar dari ruangan Bos baru.

 

Santi berlari tergopoh-gopoh, menghampiri Alya dengan sembab di mata.

 

"Al, Pak Davin ingin bertemu katanya," ucap Santi, dengan napas tersenggal.

 

"Mau apa sih? Aku lagi nggak mood," sahut Alya, tak perduli dengan rasa lelah yang kini tengah mendera sang teman.

 

"Ayolah Al, ini hari terakhir dia kerja di sini. 'Kan dia resign digantiin sama Kakaknya," seloroh Santi, membuat Alya seketika terperangah.

 

"Jadi, mereka berdua saudara?" Alya bertanya, masih tak percaya dengan berita yang baru ia dengar.

 

Santi mengangguk, lantas segera menyuruh Alya menemui Davin di Kantin.

 

"Okelah," ucap Alya, sambil melenggang pergi menuju Kantin. Menemui seorang pria, yang sedari awal sudah menunjukkan ketertarikannya pada Alya.

 

Davin menatap kotak merah berukuran kecil, senyum manis terus menghiasi bibir. Tak sabar ingin bertemu sang pujaan.

 

Tatkala Alya datang, ia segera menyembunyikan kotak merah. Agar Alya tak segera tau tentang niat baiknya.

 

"Bapak manggil saya?" Alya bertanya, berharap pertemuan mereka tidak akan berlangsung lama.

 

"Iya Al, ada hal yang perlu saya bicarakan sama kamu." 

 

Davin menatap Alya, wanita cantik dengan tubuh ramping itu terus saja membuat dirinya makin jatuh hati.

 

"Bicaralah Pak! Kerjaan saya masih banyak, nggak enak sama Boss baru," sahut Alya, masih saja cuek terhadap Davin.

 

Davin menghembuskan napas secara perlahan, mulai tegang dengan situasi Kantin yang terlihat begitu sepi.

 

"Al, ap-apa kamu mau ....," tenggorokan Davin tercekat, pembicaraannya terhenti sebelum menyatakan maksud baiknya.

 

"Iya Bapak mau apa? Mau pamit karena besok udah nggak kerja lagi?" tanya Alya, menatap Davin dengan heran.

 

Sebagai jawaban Davin, menyodorkan kotak merah berisi cincin, "Ma-maukah kamu jadi istriku Al?"

 

Mendengar hal itu, tentu saja Alya tersedak. Bagaimana mungkin Davin, melamar dirinya begitu saja.

 

"Aduuuh Bapak, jangan bercanda deh! Saya lagi nggak mood, jadi tolong jangan permainkan saya seperti ini!"

 

Davin meraih tangan Alya, "Aku serius Al, menikahlah denganku. Nanti setelah aku menyelesaikan study di luar Negeri." 

 

Alya makin bingung, dengan lamaran Pak Direktur yang secara tiba-tiba. Terlebih Davin dan Rei bersaudara, apa Davin nggak tau perihal hubungan sang Kakak dengan Alya?

 

"Ini terlalu mendadak untuk saya Pak," tukas Alya, berharap sang Direktur mengerti dan tak memaksa!

 

Davin masih terdiam, seolah tau bahwa dari dulu cintanya memang hanya bertepuk sebelah tangan.

 

"Kamu yakin Al? Mau nolak Direktur gitu aja," tanya Davin, pura-pura menggunakan kekuasaannya.

 

"Aduuuh, saya belum kepikiran untuk nikah Pak. Jadi, mohon maaf. Saya tidak bisa," jawab Alya, menyerahkan kotak merah berisi cincin pada si empunya.

 

Davin menghela napas secara perlahan," Apa ada pria lain di hatimu Al? Atau karena usia kita yang terpaut jauh? Hanya lima tahun loh, dan itu bukan suatu hal yang perlu dipersulit!"

 

Alya menelan saliva, salah satu alasannya menolak Pak Direktur memang masalah usia. Davin brondong muda, sedang Alya cukup pantas untuk bersanding dengan Rei sang Kakak. Bukan dengan adiknya.

 

 

Memanggil Bapak, lantaran rasa hormat seorang bawahan kepada atasan. Aslinya Davin masih muda, brondong manis yang nggak kalah tampan dari Rei.

 

"Aku akan tunggu jawaban kamu Al, sepulang dari studyku nanti," ujar Davin, lantas berpamitan dengan wanita yang masih tak percaya dengan lamaran secara tiba-tiba.

 

Menunggu apa lagi? Bukankah dia sudah menolak secara halus? Lantas kenapa Davin masih kekeuh? Batin Alya meringis.

 

Masalahnya dengan Rei, jelas belum usai. Kini masalah baru seolah datang, tanpa tau harus berbuat apa.

 

Alya melangkah gontai, meninggalkan Kantin. Yang sudah menjadi saksi bisu tentang kejadian antara Davin dan dirinya.

 

"Dari mana kamu? Bukannya kerja, ini malah keluyuran nggak jelas!" tanya seseorang dengan jas hitam melekat di tubuhnya, dengan tangan bersidekap.

 

"Sa-saya dari Kantin, Pak." 

 

Susah payah Alya, menahan gejolak amarah yang begitu membuncah. Baru sehari kerja, boss baru sudah berlagak.

 

"Abis sarapan apa ngapain?" tanyanya, menatap Alya dengan penuh selidik.

 

Semua orang yang berada di ruangan nampak tegang, berbanding terbalik dengan sikap Alya. Selalu cuek sekali pun menghadapi sang Pimpinan.

 

"Saya diperintah untuk menemui Pak Davin, jadi kalau mau marah. Silakan sama dia!" sahut Alya, tak perduli dengan tatapan tajam dari Rei.

 

"Bicara apa dia?" tenggorokan Rei terasa kering, bicara dengan Alya. Membuat diri selalu tak tenang.

 

"Itu jelas bukan urusan Bapak!" 

 

Santi menepuk kening, berani sekali sang teman berlaku sombong terhadap Bigg Boss.

 

Yang lain ikut tegang, takut jika Boss baru marah sebab ulah Alya. 

 

Alya dan Rei saling bersitatap, pikiran mereka melayang ke masa lampau. Andai saja wanita itu tau bahwa dirinya, masih dan akan selalu berada di hatinya.

 

Namun, keadaan memaksa Rei untuk meninggalkan Alya. Tanpa penjelasan, dan tentu menorehkan luka batin hingga kini. Tepat dua tahun lamanya.

 

Alya benci saat pria itu berpura-pura tak mengenal dirinya, benci pula dengan kepergiannya di hari pernikahan.

 

Susah payah Rei menghapus cinta untuk sang mantan, tapi, malah dipertemukan di tempat yang tak pernah ia duga sebelumnya.

 

Kalau sudah begini, untuk move on pun rasanya sulit!

 

 

 

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Yanyan
meninggalkan di hari pernikahan tanpa Ada alasan apa pun. Dan sekarang di pertemukan seolah tak kenal.. omygad.. mana di kenalim sama adik nya lagi
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status