Share

S1: Kekaguman nan Berbahaya

Emily terbangun pagi itu dengan sebuah perasaan super aneh yang tak biasanya ia alami. Jantung berdebar dan keringat dingin membanjiri sekujur tubuhnya. Ia teringat pada ciuman bibir Ocean tadi malam, dadakan, spontan, masih sedikit bergidik karena terkejut namun juga merasa takjub. 'Rupanya ini rasanya dicium seorang cowok, beda banget dengan yang selama ini kuduga.' Bibir Ocean begitu lembut dan hangat seakan-akan mengantarkan sengatan listrik, menyetrum jiwa raganya, bagaikan magnet maha kuat menarik erat semua perasaannya, hingga tak ingin dan tak bisa lepas lagi.

Entahlah apa ini cuma perasaan romantis ibarat sebuah cinta lokasi dan hanya keinginan Ocean sesaat, ataukah akan berlanjut hari ini? Rasanya Emily begitu malu dan segan bila tak sengaja menatap mata biru tajam sedalam samudra itu, seakan takut akan tercebur dan terhanyut lebih dalam lagi seperti kejadian tragis di laut yang ia alami beberapa waktu yang lalu.

Ocean dan Sky segera datang ke kamar pagi itu, tampak riang dan cerah ceria seperti biasanya.

"Selamat pagi, Emily si Mawar Pink! Hari ini setelah kau mandi dan sarapan, yuk kita ke museum dan perpustakaan keluarga kami!" ajak kedua kembar tampan itu.

Ocean sesekali menatapnya hangat, tapi karena kehadiran Sky, Emily segan menatap balik. Tapi sang kakak agaknya mengerti, ia hanya tersenyum memamerkan deretan gigi putih kuat dan tentunya bibir tipis lembut yang kemarin telah menyentuh bibir Emily yang mungil.

"Baiklah, aku segera mandi dan turun ke ruang makan untuk sarapan." Emily tampak senang karena ia belum pernah mengunjungi dua tempat yang disebut Si Kembar Tampan. "Tunggu aku ya."

"Tentu saja, take your time, kami ke bawah duluan ya." keduanya mohon pamit.

Emily dan kedua pemuda duduk makan dalam diam sementara Bibi Hannah melayani mereka dengan dingin. Semakin hari ia semakin diam dan menjaga jarak, seakan betul-betul tak menyukai kehadiran gadis itu. Tapi karena tak pernah ada kata terucap, maka Emily pun tak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa pasrah dan diam saja. 'Toh Bibi Hannah tak melakukan hal-hal aneh, hanya malam itu saja ia memarahiku. Demikian batin Emily, masih sedikit trauma pada kejadian di dapur, hingga pagi ini pun ia masih merasa segan bin enggan membantu mencuci piring bekas sarapan.

Tapi karena ada Ocean dan Sky, Emily mau tak mau berusaha terlihat sedikit rajin juga, membantu Bibi Hannah membereskan meja. Dan lagi-lagi dilihatnya wanita setengah baya itu menyimpan semua sisa makanan di dalam wadah. Tak ada yang ia buang di tempat sampah!

*********

"Kami lahir hampir 23 tahun yang lalu." kisah Sky si cerewet saat membawa Emily tur keliling  museum.

"Sebentar lagi, kurang dari sebulan lagi, kami akan ultah. Moga Emily mau tetap di sini merayakannya bersama kami." tambah Ocean.

"Wow, tentu saja. Dengan senang hati." balas Emily riang.

Di museum dan perpustakaan itu terpajang rapi dan bersih deretan rak buku-buku, banyak foto lama hitam-putih, sephia hingga berwarna, lukisan besar-besar potret leluhur keluarga Vagano, serta satu benda yang paling menarik perhatian Emy terpajang di dalam lemari kaca.

"Sebuah pedang? Apakah ini sungguhan?" tanya gadis itu.

Kedua kembar Vagano terdiam seketika.

"Dangerous Attraction : Kekaguman nan Berbahaya." ucap Ocean lama kemudian dengan suara lirih dan dingin, "Inilah pedang terkutuk yang tak pernah boleh jatuh ke tangan siapapun, sebab konon bisa membuat pemegangnya akan segera membunuh siapapun, pemegang yang memiliki dendam kesumat dalam hatinya."

"Belum lagi gulungan perkamen terkutuk itu." tambah Sky dengan suara lirih dan dingin yang tak seperti biasanya.

'Duh, kok aku tetiba jadi merinding?' Emily merasa ada aura berbeda terpancar dari kedua pemuda itu, tiba-tiba seakan mencekam dirinya di siang hari cerah di tempat antik seluas dan seterang ini.

Comments (1)
goodnovel comment avatar
Mira Amalia
seru banget ceritanya..bikin tegang dan penasaran..tapi juga baper.
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status