Share

7. Permintaan Eza Pada Naura

"Tapi apa? Apa kamu masih mencintai Alfa?"

"Eza, kamu ini bicara apa? Apa kamu menuduhku?" kata Naura tak terima, ia merasa disalahkan.

"Aku nggak nuduh kamu, aku cuma memastikan hatimu. Apakah kamu benar mencintaiku, atau aku hanya bayangan bagimu?"

Naura menghela napas panjang. "Aku nggak harus berulang kali mengatakanya, seharusnya kamu udah tahu. Lagipula kita udah berjalan tiga tahun, apa menurutmu aku akan terus bersamamu kalau aku nggak mencintaimu?" ujar Naura.

"Kamu duduk dulu, aku ambilkan air buat bersihin luka kamu," lanjut Naura kemudian berlalu begitu saja.

Masih berdiri di depan pintu, Eza terus memperhatikan punggung Naura hingga menghilang dari pandangan. "Kamu ada disisiku, kita baik-baik saja selama ini, sebelum dia datang. Tapi setelah hari ini, apa kita akan tetap baik-baik saja, Naura?" ujar Eza lirih.

Eza mengusap wajahnya kasar, kemudian ia beralih duduk di bangku teras menunggu Naura datang.

Tidak membutuhkan waktu lama untuk Naura mengambil air dan kotak obat di dalam. Naura pun telah kembali ke teras.

Naura duduk berhadap-hadapan dengan Eza untuk mengobati luka Eza. Memeras handuk kecil yang sebelumnya ia celupkan pada baskom berisi air, kini Naura menepuk-nepuk pelan luka pada wajah Eza.

"Ssshhh ... ah, pelan-pelan, Naura, sakit," adu Eza.

"Ini juga udah pelan, Eza. Lagian kamu ngapain sih pake berantem segala? Ujung-ujungnya nyakitin diri sendiri gini," ujar Naura masih sibuk membersihkan sisa darah yang telah mengering di ujung bibir Eza.

"Aku kesal, Naura, aku cemburu."

"Cemburu itu untuk orang yang nggak percaya diri," balas Naura cepat.

"Ya, mungkin aku memang nggak percaya diri. Tadi nggak sengaja aku lihat dia di jalan jadi aku hampiri dia. Awalnya aku hanya ingin mengancamnya untuk nggak deketin kamu lagi, tapi ternyata mulutnya nggak bisa di toletansi dan aku nggak bisa menahan untuk nggak hajar dia."

"Tapi kamu kena pukul juga," cibir Naura.

"Nggak papa, Naura, ini bukan apa-apa. Demi mempertahankan kamu aku rela mengorbankan nyawaku."

"Jangan bicara seperti itu, Eza. Jangan bawa-bawa nyawa, aku nggak suka," kata Naura cemberut.

Naura mengambil kapas dan menuang cairan obat untuk mengobati luka Eza. Namun sebelum Naura berhasil mengobati luka Eza, lebih dulu Eza menangkap pergelangan tangan Naura.

"Eza, biar aku obati luka kamu dulu," kata Naura. Namun Eza tak bergeming. Ia tetap pada posisinya, menahan tangan Naura dan menatap pada manik mata Naura intens.

"Naura, apa yang bisa aku lakukan supaya kamu bisa keluar dari perusahaan itu? Aku nggak rela kamu terus berduaan sama dia. Aku takut dia akan menggantikan posisiku di hatimu, Ra. Aku serba takut. Tolong kasih tahu aku, apa yang bisa aku lakukan sekarang?" Eza lemah, ia takut dan gelisah. Ia tidak bisa memikirkan hal-hal positif. Yang ada di kepalanya hanya Naura akan pergi meninggalkannya.

Naura menjatuhkan kapas yang masih ia pegang sejak tadi, kemudia ia beralih mengusap pipi Eza dengan lembut.

"Eza, percaya dirilah. Percaya pada ketulusan cinta kita. Selama kita sama-sama berjuang untuk terus bersama-sama maka semuanya akan berjalan sesuai yang kita inginkan. Asalkan kita memiliki satu tujuan yang sama maka kita akan sampai pada tujuan itu bersama-sama."

Eza mengulas senyum. Meski di dalam hatinya ia masih merasa gundah namun ia menghargai ketulusan Naura.

Eza menyelam pada manik mata Naura yang jernih, dan ia tidak menemukan adanya kebohongan, hanya ada ketulusan di mata Naura.

Eza mendekatkan wajahnya, memangkas jarak. Eza menarik Naura untuk mendekat dan mereka pun berciuman.

Naura ingin menolak ciuman itu—seperti biasanya, namun kali ini ia tidak tega melakukannya. Eza mungkin akan kembali marah jika Naura menolak, jadi Naura menerimanya saja.

Sejujurnya, meskipun sudah berjalan tiga tahun mereka menjalin hubungan, masih dalam hitungan jari mereka berciuman. Naura lah yang selalu mengelak dan menolak.

Naura memejamkan mata dalam ciuman itu, ia merasa tidak memiliki keinginan untuk melakukan itu, sehingga ia hanya menerima ciuman itu tanpa berniat membalasnya, yang terpenting ia tak menolaknya.

Setelah cukup lama dan mereka hampir kehabisan napas, Eza lebih dulu mundur memisahkan bibir mereka. Naura menunduk pada jarak mereka yang masih teramat dekat. Embusan napas Eza menerpa wajah Naura, hangat.

"Aku berharap penuh pada keputusanmu, Ra, aku menunggu jawabanmu secepatnya," kata Eza.

"Iya."

"Udah malam, sebaiknya aku pulang. Kamu juga istirahat, jangan begadang."

"Aku nggak pernah begadang, aku selalu menjaga waktu istirahatku."

Eza terkekeh sambil mengacak puncak kepala Naura.

"Iya iya, aku tahu kok. Ya udah aku pulang dulu ya, Sayang, besok aku jemput kamu."

"Iya, kamu hati-hati di jalan."

Eza mengecup kening Naura singkat sebekum ia pergi. "Selamat malam, Ra, aku mencintaimu."

"Aku mencintaimu, Eza."

***

Seorang pria mencengkeram kemudi mobilnya kuat. Ia mengamati Naura dan Eza sejak tadi. Dan sialnya ia harus menyaksikan keduanya berciuman, sial!

Ya, siapa lagi dia jika bukan Alfa.

Alfa menggertakkan giginya, ia seakan tak terima kekasihnya di sentuh oleh laki-laki lain. Kekasih? Ya, Alfa masih selalu menganggap Naura kekasihnya apapun yang terjadi, tak pernag berubah.

Ingin rasanya Alfa melompat keluar dari mobilnya, menghampiri Naura dan menghapus jejak bibir pria lain itu dari bibir Naura, tapi Alfa merasa tak berdaya. Ya, sebaiknya Alfa mengikuti saran Vano saja.

Saat ini Naura pasti sedang tertekan, walau bagaimanapun hubungannya dan Eza tiba-tiba bermasalah, itu pasti berpengaruh pada emosional Naura. Dan Alfa tidak ingin menambah beban untuk Naura.

"Naura, kamu satu-satunya wanita yang ingin aku tuju. Dan aku yakin akupun menjadi satu-satunya orang yang kamu inginkan. Aku sangat yakin, aku percaya pada cinta kita."

***

Keesokan harinya ....

"Selamat pagi, Naura," sapa Yessy yang baru saja masuk ke lift yang sama dengan Naura.

"Oh, hai, Yessy, selamat pagi," balas Naura.

"Apa kamu selalu cantik seperti ini, Naura?" tanya Yessy.

"Ha, maksudmu?" tanya Naura tak mengerti.

"Iya, kamu sangat cantik. Aku saja sebagi seorang perempuan iri pada kecantikanmu, aku yakin pak Alfa pasti bakal kepincut sama kamu. Ngomong-ngomong, pak Alfa masih single loh, Naura," ujar Yessy tiba-tiba membicarakan mengenai bossnya.

Naura terkekeh. "Lalu apa hubungannya denganku, Yessy? Itu kan urusan dia."

"Yaaa kali aja kamu mau deketin pak boss gitu. Kabarnya sih dia udah punya pacar, tapi sampai sekarang nggak ada yang tahu siapa dan dimana pacarnya itu. Yang aku tahu pak boss selalu menolek cewek-cewek yang deketin dia dengan alasan 'aku udah punya kekasih' gitu."

Naura terdiam, tak tahu harus berkomentar apa.

"Hayoo kenapa diam aja? Lagi merencanakan strategi buat deketin pak Alfa ya?" goda Yessy tak berdasar.

"Mana ada? Kenapa nggak kamu aja yang coba dekati dia?" Naura membalikkan pertanyaan.

"Ah, aku mah nggak termasuk wanita idamannya. Aku sadar diri," balas Yessy sambil terkikik.

"Aku duluan, Naura, bye. Semoga harimu menyenangkan."

"Jadi benar Alfa masih menganggapku kekasihnya?"

***

Comments (1)
goodnovel comment avatar
SetyaAiWidi
Kalo cewek dicium tapi gak ngebales, artinya dia gak ada rasa. Gitu deh kayaknya. Eza gak peka banget sih. Kamu sama aku aja dah, Za. 😂
VIEW ALL COMMENTS

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status