Share

BAB 9 BAIKKAN

Alaska kali ini tengah berfikir keras di taman kampusnya. Ia berfikir kenapa harus dia yang berada di posisi ini?

Di saat dirinya menaruh harapan malah di kecewakan. 

Terlintas dalam benak pria itu. Akan suatu hal yang terjadi di rumah Yesa saat ia datang berkunjung. Akhir-akhir ini, banyak yang terjadi bahkan saat ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Yesa. 

“Woy! Kenapa lo?” Kaget Azka pada Alaska yang masih melamun dengan tatapan datar. 

“Gak apa-apa. Baru dateng aja, lu?” tanya Alaska spontan pada Azka yang malah cengengesan. 

“Eh, katanya sekarang kelas on time! Ayok buruan ke aula!” ajak Azka seraya menyeret tangan Alaska untuk bergegas menguntit cengengesan.

*** 

Heran deh, Alaska itu mentalnya terbuat dari apa sih? Ampe masih berani datang ke rumah Yesa hanya karena alasan masih cinta.

Bahkan ia juga gak mikir kalo nanti dia bakalan kecewa. 

Malam ini, di tempat yang sama, masih terdengar kericuhan.

Namun, tak separah yang kemaren. Kali ini, Alaska berinisiatif untuk menyalakan bel tamu untuk bisa bertemu dengan Yesa. Akan tetapi, hati kecilnya berkata. 

 'Apa yang terjadi di dalam?' 

Padahal, Alaska ingin menekan bel tamu yang terletak rapi tepat di samping pintu Yesa. Akan tetapi, suara ricuh dari dalam membuat Alaska enggan.

Alaska yang mendengar suara pintu akan di buka, sontak berdiri dan berharap itu adalah kekasihnya. Tapi, harapannya salah. Pria dewasa dengan pakaian jas rapi keluar dari dalam rumah, dan tampak terkejut dengan kehadiran Alaska di depan rumahnya.

"Siapa kamu?" tanyanya ketus pada Alaska.

Alaska sontak membungkukkan badannya, seraya mengulurkan tangannya pada pria itu, menandakan jika ia menghormati orang yang lebih tua darinya itu.

"Saya tanya, kamu siapa?" ujarnya lagi dengan suara lantang dan tak menghiraukan uluran tangan Alaska.

Namun, jika dilihat dari sikapnya, dia orang yang sombong.

"Maaf, Om. Saya Bhalendra Alaska Arlic. Pacarnya Yesa. Yesa-nya ada, Om?" jawab Alaska.

"Hahaha, pacar Yesa? Yang bener aja kamu! Yesa itu udah punya pacar. Jangan mengada-ngada deh kamu!" tukas pria itu lagi yang membuat Alaska bergetar mendengarnya .

"Pa-pacar gimana ya, Om? Saya itu kan pacarnya Yesa. Kita pacaran udah setahun, Om," tutur Alaska menjelaskan.

"Kamu itu anak dari mana sih? Kamu pakai mobil apa ke sini? Kok ngaku pacar anak saya! Anak saya itu pacarnya tajir, dan selevel dengan keluarga saya, gak kayak kamu!" caci pria itu pada Alaska yang tak kuasa menahan sesak di dadanya.

"Rania! Panggilkan anak kamu itu! Ada orang yang ngaku-ngaku jadi pacarnya." timpal pria itu lagi pada wanita yang menurut Alaska itu adalah istrinya, entahlah.

Alaska juga tak begitu mengenal keluarga Yesa. Apa mungkin itu ayahnya? Terlihat sangat sombong dengan orang yang sederhana.

"Apaan sih kamu? Orang mau berangkat ngantor malah nyuruh panggil Yesa, Panggil aja sendiri!" balas wanita itu yang tak mengindahkan perintah suaminya.

Keluarga Yesa amat membuat kepala Alaska pecah, keributan, debat, terjadi di sini.

Apa isi benak orang kaya itu hanya uang dan karir saja? Sehingga tak peduli, jika tak ada waktu dengan keluarga.

Entahlah ..

"Yesa!" teriak pria itu.

"Ih apaan sih Mi, Pi? Berisik aja tau gak? Tadi berantem, sekarang malah panggil Yesa, ada apa sih, Pi?” omel Yesa yang turun dari tangga rumahnya dan menghampiri pria itu, yang sesuai dugaan Alaska jika itu adalah ayah kekasihnya, dan akan menjadi calon mertua baginya nanti.

Tapi Alaska berfikir, jika keluarga Yesa tak begitu menyukai dirinya.

"Sini kamu! Ini anak ngaku pacar kamu, apa bener begitu?" tanya pria itu pada Yesa, yang sontak kaget bukan main, jika ia mendapati Alaska berdiri di depan rumahnya dan tepat di hadapan sang ayah.

"I-iya, Pi. Ini Alaska," tutur Yesa terbata, karena takut akan kemarahan ayahnya.

"Hahaha, yang bener aja kamu Yesa? punya pacar kegini," ledek mami Yesa pada anaknya yang menahan malu.

"Terus pacar kamu yang kemaren kamu ke mana kan hah?"

Suasana di sana, tak sesuai dengan harapan Alaska. Ia berharap jika hari ini adalah hari untuk ia akan baikkan dengan kekasihnya itu, tapi nyatanya? Hanya hinaan, cacian, dan celaan yang terjadi pada dirinya yang tak kuasa untuk bertahan dari sana.

"Hentikan, Om! Saya memang bukan berasal dari keluarga orang kaya, dan saya juga seorang anak kost yang mengejar sebuah kesuksesan di kota orang, tapi saya janji, saya bisa membahagiakan Yesa!" bantah Alaska tegas karena tak kuat menahan cacian sang ayah Yesa yang begitu menghujam dirinya.

"Lelucon apa yang kamu lontarkan anak muda?" ledek Ayah Yesa lagi.

"Saya, bukan berlelucon, Om! Tapi yang saya ucapkan nyata adanya. Uang bisa dicari, tapi kebersamaan, hati dan cinta itu gak bisa dibeli!" bantah Alaska lagi.

"Kurang ajar sekali anak ini," geram ayah Yesa yang hampir akan memukuli Alaska yang berdiri kokoh di .sana, siap untuk resiko yang ada demi meyakinkan ayah Yesa.

"Udah diam!" teriak Yesa sebelum semuanya semakin panjang, dan sebelum pukulan melayang di pipi Alaska.

"Berdebat untuk hal yang gak penting gak ada gunanya tau gak!"

"Kamu urus ini orang! Papi gak mau kamu berhubungan dengan dia lagi! Bikin malu aja!" hardik pria itu pada Yesa yang mengernyitkan dahinya yang tengah kesal.

"Kamu tuh ngapain sih ke sini gak bilang-bilang?" tukas Yesa pada Alaska.

"Alaska pengen ketemu kamu, Alaska gak mau kehilangan kamu by. Alaska tau, kemaren itu kamu lakuin itu semua karena Alaska yang gak bisa bikin kamu bahagia dengan mobil dan benda-benda yang branded. Alaska nyesel by, Alaska janji untuk ke depannya Alaska bakalan wujudin itu semua," ujar Alaska yang sontak memeluk gadis itu dan menangis.

"Gak, aku gak mau!" tolak Yesa.

"Kasih Alaska satu kali kesempatan buat wujudinnya by. Alaska mohon," tutur Alaska dalam tangisnya.

Yesa yang sontak menghela napas, akhirnya mengiyakan apa yang dikatakan Alaska.

"Ya udah, masih ada satu kesempatan buat kamu buktiin ya!"

"Tapi tinggalin semua yang udah kamu lakuin kemarin, Alaska gak suka!" Tegas Langit lagi pada kekasihnya itu.

"Iya-iya," jawab Yesa yang melepas pelukan Alaska darinya.

"Beneran kan?"

"Iya beneran," jawab Yesa lagi.

"Makasih ya by,"

"Tapi ada syaratnya! Kamu harus buktiin sama aku kalo kamu bisa bahagiain aku dengan semua yang aku mau!"

"Iya janji! Tapi, Alaska butuh proses untuk semua itu by. Dan Alaska minta, dampingin Alaska terus sampai bisa di titik kasih semua yang kamu mau dengan hasil jerih payah Alaska sendiri," tukas Alaska pada Yesa, yang tak ingin membuat wanitanya itu kecewa dalam waktu dekat.

Sontak Alaska yang kembali memeluk Yesa, merasa lega karena telah kembali baikkan dengan kekasihnya.

"Aku tau, makanya aku ragu," timpal Yesa yang sontak membuat Alaska kembali bertanya dalam hatinya.

"Ragu? Kenapa?"

"Ragu, kalo kamu gak bisa bahagiain aku nantinya. Secara nyokap dan bokap aku gak mau punya menantu yang kere, Ka! Aku juga gak mau bikin nyokap sama bokap aku malu. Jangan kan itu, mereka yang udah puas dengan uang serta harta pun terkadang masih ada pertengkaran," tutur Yesa.

"Iya kalo itu, Alaska paham kok by. Alaska janji dan yakin, kalo kita gak akan berantem dan bisa bahagiain mereka. Dan satu hal lagi, uang bisa dicari. Tapi sayang dan cinta gak bisa dibeli by! Percaya ama Alaska, Alaska sadar kalo selama ini hal yang kamu lakukan itu karena rasa sedih juga kecewa terhadap Alaska yang gak bisa kasih,"

"Iya dan aku juga gak mau diejek sama mereka! Jujur malu punya pasangan yang gak selevel!"

Deg

Ingin rasanya menangis di tempat, tapi nyatanya tak bisa! Semua tertahan begitu saja. Bahkan mulut pun enggan berkutik, meskipun rasa bahagia masih menetap.

-------------

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status